Tampilkan postingan dengan label Penyalur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyalur. Tampilkan semua postingan

Kamis, Januari 14, 2010

Konsumsi BBM Bersubsidi 2009 Melonjak

GB


JAKARTA--MI:
Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas mencatat, hingga 22 Desember 2009 lalu, realisasi konsumsi BBM bersubsidi sejak Januari 2009 yang belum diverifikasi mencapai Total 36.870.499 kilo liter (KL).

"Dari jumlah tersebut terdiri dari premium 20.616.356 (KL), minyak tanah (kerosin), 4.499.863 KL dan

solar 11.754.280 KL," ujar Kepala BPH Migas Tubagus Haryono, dalam pesan singkatnya, rABU (30/12).

Diperkirakan sampai akhir tahun, imbuh Tubagus, realisasi konsumsi BBM bersubsidi ini akan melebihi kuota. Untuk itu telah dilakukan revisi kuota berdasarkan hasil verifikasi dan prognosa yang dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM dan Surat Keputusan (SK) Kepala BPH Migas.

"Perkiraan kita lonjakan itu terdiri dari premium berjumlah 20.946.992 KL, Kerosin 4.700.000 KL dan solar 11.817.671 KL. Jadi totalnya hingga akhir tahun mencapai 37.464.663 KL," ujar Tubagus.

Terkait hal ini pihaknya telah mengadakan rapat koordinasi ini dengan Departemen Keuangan, Direktorat Jenderal Migas, dan Pertamina.

"Intinya kita meminta agar Pertamina melakukan pengendalian distribusi BBM pada sisa waktu sampai akhir 2009," pungkas Tubagus. (Jaz/OL-03)

Jumat, Desember 12, 2008

69 SPBU Kena Sanksi


Petugas SPBU di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, melayani pembeli yang mengisi kendaraannya dengan premium, Senin (17/3). Mengikuti harga minyak mentah dunia, pekan lalu, Pertamina menaikkan harga bahan bakar khusus, antara lain pertamax plus dari Rp 8.100 per liter menjadi Rp 8.300 per liter.

Kamis, 11 Desember 2008 |

JAKARTA, KAMIS — Sebanyak 69 SPBU terkena sanksi skors dari Pertamina Persero berupa penghentian layanan selama dua minggu. Sanksi dijatuhkan karena SPBU tidak memiliki persediaan pada 1 Desember 2008 saat harga premium turun Rp 500 per liter.

Namun, Direktur Pemasan dan Niaga Pertamina Ahmad Faisal mengatakan, pemberian sanksi dengan penghentian layanan ke SPBU selama dua minggu ini dinilai kurang efektif karena mengurangi layanan ke masyarakat. Karena itu, selanjutnya Pertamina akan memberikan sanksi berupa pengurangan margin yang besarannya ditentukan Pertamina.

Tanggal 30 November 2008 terjadi penurunan 30 persen penebusan dari rata-rata penebusan pada Minggu. Pasalnya, SPBU menganggap tambahan margin Rp 80 per liter kurang menarik. Namun, pada 1-3 Desember terjadi penambahan 30 persen penebusan karena terjadi rush pembelian dari konsumen BBM.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Arie Soemarno menegaskan, pemberian margin Rp 80 per liter sudah disetujui pemegang saham Pertamina.

"Sebelumnya ketika premium naik pada Mei sekitar Rp 1.500 per liter SPBU sudah mendapat margin Rp 1.300 per liter. Apalagi, pada 2005 sampai dua kali lipat," ujar Arie.

Karena itu, Arie meminta agar pemilik usaha SPBU memahami pemberian margin tersebut karena tahun ini seharusnya SPBU tidak rugi.

Selasa, November 25, 2008

Kilang minyak


Kilang minyak (oil refinery) adalah pabrik/fasilitas industri yang mengolah minyak mentah menjadi produk petroleum yang bisa langsung digunakan maupun produk-produk lain yang menjadi bahan baku bagi industri petrokimia. Produk-produk utama yang dihasilkan dari kilang minyak antara lain: minyak bensin (gasoline), minyak disel, minyak tanah (kerosene). Kilang minyak merupakan fasilitas industri yang sangat kompleks dengan berbagai jenis peralatan proses dan fasilitas pendukungnya. Selain itu, pembangunannya juga membutuhkan biaya yang sangat besar.

Proses Operasi di dalam Kilang Minyak

Gambar ini memperlihatkan diagram dari proses-proses yang umum berlangsung di dalam kilang minyak. Sumber: UOP

Minyak mentah yang baru dipompakan ke luar dari tanah dan belum diproses umumnya tidak begitu bermanfaat. Agar dapat dimanfaatkan secara optimal, minyak mentah tersebut harus diproses terlebih dahulu di dalam kilang minyak.

Minyak mentah merupakan campuran yang amat kompleks yang tersusun dari berbagai senyawa hidrokarbon. Di dalam kilang minyak tersebut, minyak mentah akan mengalami sejumlah proses yang akan memurnikan dan mengubah struktur dan komposisinya sehingga diperoleh produk yang bermanfaat.

Secara garis besar, proses yang berlangsung di dalam kilang minyak dapat digolongkan menjadi 5 bagian, yaitu:

  • Proses Distilasi, yaitu proses penyulingan berdasarkan perbedaan titik didih; Proses ini berlangsung di Kolom Distilasi Atmosferik dan Kolom Destilasi Vakum.
  • Proses Konversi, yaitu proses untuk mengubah ukuran dan struktur senyawa hidrokarbon. Termasuk dalam proses ini adalah:
  • Proses Pengolahan (treatment). Proses ini dimaksudkan untuk menyiapkan fraksi-fraksi hidrokarbon untuk diolah lebih lanjut, juga untuk diolah menjadi produk akhir.
  • Formulasi dan Pencampuran (Blending), yaitu proses pencampuran fraksi-fraksi hidrokarbon dan penambahan bahan aditif untuk mendapatkan produk akhir dengan spesikasi tertentu.
  • Proses-proses lainnya, antara lain meliputi: pengolahan limbah, proses penghilangan air asin (sour-water stripping), proses pemerolehan kembali sulfur (sulphur recovery), proses pemanasan, proses pendinginan, proses pembuatan hidrogen, dan proses-proses pendukung lainnya.

Peralatan Proses

Proses Distilasi

Gambar ini memperlihatkan proses distilasi (penyulingan) minyak mentah yang berlangsung di Kolom Distilasi.
Gambar ini memperlihatkan proses distilasi (penyulingan) minyak mentah yang berlangsung di Kolom Distilasi.

Tahap awal proses pengilangan berupa proses distilasi (penyulingan) yang berlangsung di dalam Kolom Distilasi Atmosferik dan Kolom Distilasi Vacuum. Di kedua unit proses ini minyak mentah disuling menjadi fraksi-fraksinya, yaitu gas, distilat ringan (seperti minyak bensin), distilat menengah (seperti minyak tanah, minyak solar), minyak bakar (gas oil), dan residu. Pemisahan fraksi tersebut didasarkan pada titik didihnya.

Kolom distilasi berupa bejana tekan silindris yang tinggi (sekitar 40 m) dan di dalamnya terdapat tray-tray yang berfungsi memisahkan dan mengumpulkan fluida panas yang menguap ke atas. Fraksi hidrokarbon berat mengumpul di bagian bawah kolom, sementara fraksi-fraksi yang lebih ringan akan mengumpul di bagian-bagian kolom yang lebih atas.

Fraksi-fraksi hidrokarbon yang diperoleh dari kolom distilasi ini akan diproses lebih lanjut di unit-unit proses yang lain, seperti: Fluid Catalytic Cracker, dll.

Produk-produk Kilang Minyak

Produk-produk utama kilang minyak adalah:

Kilang Minyak di Indonesia

Di Indonesia terdapat sejumlah kilang minyak, antara lain:

Semua kilang minyak di atas dioperasikan oleh Pertamina.

agusstudio2005.blogspot


Kamis, November 13, 2008

Menteri ESDM Luncurkan Pertamina Biosolar untuk Industri


Bio-Solar adalah bahan bakar campuran untuk mesin diesel yang terdiri dari minyak hayati non fosil ( bio fuel ) - sebesar 5 persen minyak kelapa sawit atau CPO ( Crude Palm Oil ) yang telah dibentuk menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan 95 persen solar murni

bersubsidi. Bahan bakar ini secara bertahap akan mengurangi peran solar.



JAKARTA. Menteri ESDM didampingi Dirjen Migas dan Dirut PT. Pertamina bertempat di Depot Pertamina Plumpang meluncurkan Pertamina Biosolar untuk industri dan perluasan penjualan BBN di SPBU seluruh Indonesia, Selasa (11/11). Hadir dalam acara tersebut Pejabat Eselon I DESDM, Dirut Pertamina serta jajaran direksi dan komisaris PT Pertamina (Persero), dan Perwakilan Pemda DKI.

Purnomo Yusgiantoro mengatakan, dalam perjalanannya perkembangan BBN mengalami pasang surut, tetapi dengan adanya Peraturan Menteri ESDM No. 32 tahun 2008 dimana pada waktu itu kita tetapkan sebagai mandatory untuk BBN dan didorong perkembangan harga energi yang saat ini mengalami penurunan, maka mendorong dipercepatnya peluncuran biosolar dan perluasan BBN bagi SPBU-SPBU di seluruh Indonesia.

Kebutuhan BBN saat ini mencapai sebesar 3.4 Juta KL/tahun yang diperuntukkan bagi transportasi, pembangkit PLN dan industri, namum kapasitas yang tersedia hanya 2,5 juta KL/tahun sehingga masih diperlukan kapasitas tambahan untuk mendukung kebutuhan BBN ini, sebagian besar dari 2.5 juta KL tersebut akan dipenuhi dari Depot Pertamina Plumpang, ujar Menteri ESDM

Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri ESDM No. 32 tahun 2008 Tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai bahan Bakar lain. PT Pertamina (Persero) mendapatkan kepastian standarisasi kualitas bahan bakar nabati dan kelancaran pasokan bahan bakar biofuel, dengan demikian PT Pertamina (Persero) dapat lebih memfokuskan perannya dalam meningkatkan pelayanan kepada konsumen.

Selain itu ujar Dirut PT Pertamina (Persero), selain sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah dengan memasarkan produk BBN, PT Pertamina (Persero) juga memberikan kontribusi bagi pelestarian lingkungan, ketersediaan energi dan dampak pada pengembangan masyrakat dan petani terutama penghasil BBN.

Biosolar merupakan campuran Solar dengan FAME (Fatty Acid Methyl Ester), Biopremium merupakan campuran Premium dengan Ethanol Unhydrou Tardenaturasi dan Biopertamax adalah campuran Pertamax dengan Ethanol Unhydrou Tardenaturasi.

Saat ini PT Pertamina (Persero) telah memasarkan Biosolar di 411 SPBU di Jakarta, Denpasar dan Surabaya dengan volume penjualan mencapai 80.600 KL/bulan. Untuk sektor industri pengiriman Biosolar telah dimulai sejak tanggal 1 Nopember 2008 lalu dan akan terus dikembangkan di masa datang. Pada waktu yang bersamaan, Untuk produk Biopremium telah dipasarkan di 14 SPBU Jakarta dan Malang dengan volume penjualan rata-rata 9.500 KL/bulan, sedangkan Biopertamax sejumlah 1.651 KL/bulan, dipasarkan di 46 SPBU yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Malang, dan Denpasar.

Selasa, November 11, 2008

Pertamina Suplai Biodiesel ke Industri


JAKARTA, KOMPAS - PT Pertamina memperluas pemasaran biodiesel ke konsumen industri. Perseroan menargetkan pemasaran bahan bakar nabati untuk keperluan transportasi dan industri menjangkau seluruh wilayah Pulau Jawa dan Bali pada tahun 2009.

Direktur Utama PT Pertamina Ari H Soemarno, Selasa (11/11), dalam peresmian di Depo Pertamina Plumpang, mengemukakan, momentum turunnya harga bahan bakar nabati menjadi kesempatan memperluas pemakaiannya di dalam negeri. ”Sampai pertengahan 2008 banyak permintaan ekspor biodiesel sehingga Pertamina kesulitan memperluas pemakaian,” katanya.

Mulai 1 November, Pertamina sudah memasarkan biodiesel ke 20 industri yang ada di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Volume yang dipasarkan sekitar 1.500 kiloliter.

Pertamina mulai memasarkan bahan bakar nabati untuk keperluan transportasi tahun 2006. Bahan bakar nabati yang dipasarkan adalah Biosolar yang menggunakan campuran fatty acid methyl ester (FAME) serta Biopremium dan Biopertamax yang menggunakan campuran etanol.

Pertamina memperluas pemasaran bahan bakar nabati karena Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 Tahun 2008 mewajibkan hal itu. Ditargetkan, sampai tahun 2009, seluruh badan usaha niaga umum yang memasarkan bahan bakar ke konsumen industri dan komersial minimal menjual bahan bakar nabati 2,5 persen dari total volume keseluruhan.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, bila volume bahan bakar nabati bisa 10 persen dari total volume bahan bakar nasional, tiap tahun dibutuhkan bahan bakar nabati 3,4 juta kiloliter. Jumlah itu untuk pemakaian industri, transportasi, dan pembangkit listrik. Kapasitas produksi bahan bakar nabati saat ini 2,5 juta kiloliter. (DOT)

Kamis, November 06, 2008

Harga Premium Turun Rp. 500/Liter mulai 1 Desember 08

Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani didampingi Meneg ESDM Purnomo dan Jubir Presiden, Andi Mallarangeng, memberi penjelasan mengenai penurunan harga premium, usai diterima Presiden SBY hari Kamis (6/11) sore. (foto: haryanto/presidensby.info)
Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani didampingi Meneg ESDM Purnomo dan Jubir Presiden, Andi Mallarangeng, memberi penjelasan mengenai penurunan harga premium, usai diterima Presiden SBY hari Kamis (6/11) sore. (foto: haryanto/presidensby.info)

PERKEMBANGAN HARGA BBM TAHUN 2003
PERKEMBANGAN HARGA BBM TAHUN 2004
PERKEMBANGAN HARGA BBM TAHUN 2005

PERKEMBANGAN HARGA BBM TAHUN 2006
PERKEMBANGAN HARGA BBM TAHUN 2007
PERKEMBANGAN HARGA BBM TAHUN 2008


Jakarta: Pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium sebesar Rp. 500,-/liter, dari Rp. 6.000,-/liter menjadi Rp. 5.500,-/liter. Harga baru tersebut mulai diberlakukan tanggal 1 Desember 2008, dengan penetapan peraturan menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang akan diterbitkan.

Usai diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Kamis (6/11) sore, Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani didampingi Menteri ESDM Purnomo Yusgihantoro dan Jubir Presiden Andi Mallarangeng mengatakan, "Penurunan harga ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk betul-betul mengurangi beban masyarakat dengan berbagai instrumen maupun sumber daya yang dimiliki,” kata Sri Mulyani.

"Penurunan harga BBM jenis premiun ini, menyikapi perkembangan harga minyak mentah internasional yang terus menurun dalam beberapa bulan terkahir ini, bahkan mencapai sekitar 65 Dolar AS/barel, dan menangkap aspirasi yang berkembang di masyarakat, baik itu di DPR, pelaku usaha, pengamat, masyarakat umum, terutama mereka –mereka yang selama ini merasakan beban ekonomi akibat kenaikan harga komoditas yang terjadi selama 10 bulan pertama ini dan permohonan agar pemerintah menimbang harga BBM yang selama ini berlaku," lanjutnya.

”Selain itu juga adanya gejolak ekonomi global baru yang sekarang ini terjadi, yang sudah pasti menyebabkan melemahnya perekonomian global dan bisa berdampak pada perekonomian nasional. Oleh karena itu perlu melakukan antisipasi atau menetralisir dampaknya agar bisa mengurangi beban ekonomi dunia usaha dan masyarakat. Maka pemerintah merespon perkembangan berbagai indikator dan suasana tersebut, dan dengan mengevaluasi masukan berbagai pihak serta melihat terutama kondisi APBN baik tahun 2008 dan 2009, pemerintah memutuskan harga premiun sebesar Rp. 500,-/liter, yaitu harga berlaku sekarang sebesar Rp. 6.000,-/liter menjadi Rp.5.500,-/liter,” jelas Sri Mulyani.

”Adapun harga BBM bersubsidi lainnya yaitu solar dan minyak tanah saat ini tidak mengalami perubahan, karena perbedaannya dalam harga perekonomian masih sangat tinggi. Saya ingin menekankan bahwa harga premiun Indonesia dibandingkan semua negara di kawasan Asia masih yang termurah, apalagi sekarang. Bahkan dengan Malaysia, di mana sering diberitakan menurunkan 4 kali lipat BBM, tapi kita masih lebih murah di Indonesia,” kata Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani , penurunan hargan BBM jenis premium ini diharapkan dapat meningkatkan dan memperbaiki daya beli masyarakat menggairahkan dunia usaha serta menjadi alat untuk melakukan counter siklus dari perekonomian yang diperkirakan melemah karena adanya krisis ekonomi dunia terhadap perekonomian nasional.
http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2008/11/06/3682.html



06/11/2008 17:48 - BBM
Harga Premium Turun Awal Desember

Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah akhirnya menurunkan harga premium dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 per liter mulai 1 Desember 2008. Hal itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam jumpa pers di Istana Merdeka, Kamis (6/11) petang.

Sementara itu, BBM bersubsidi lainnya seperti minyak tanah dan solar tidak turun karena harganya masih jauh dari keekonomian. Pemerintah akan memantau harga premium tiap satu bulan serta menyesuaikan dengan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, dan volume konsumsi BBM.(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)


Kamis, Oktober 30, 2008

Pipa Bensin Balongan-Plumpang Bocor di Indramayu

Foto Terkait Indramayu - Sebuah Pipa yang menyalurkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dari kilang Balongan ke depo Plumpang Jakarta, di Desa Legok, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, bocor. Warga pun berebut mengalap bensin.

Penyebab Kebocoran pipa yang tertanam 3 meter di bawah tanah tersebut belum diketahui. Namun melihat kondisinya yang berkarat, diduga kebocoran pipa tersebut diakibatkan umur pipa sudah tua.

"Belum diketahui penyebabnya, namun pasokan premium ke depo Plumpang untuk sementara kita hentikan dulu sambil menunggu proses perbaikan," tutur Iskandar, Humas Pertamina UPMS yang ditemui di lokasi, Rabu (29/10/2008).

Saat kebocoran terjadi, ratusan masyarakat desa setempat berduyun-duyun mengambil minyak tersebut dengan menggunakan jeriken dan ember. Bahkan, setiap warga ada yang mampu mendapatkan 10 liter minyak premium.DETIK NEWS

Rabu, Oktober 22, 2008

Redam Krisis, Pemerintah Harus Turunkan Harga BBM

Video
Rabu, 22 Oktober 2008 | 11:36 WIB

JAKARTA, RABU - Pemerintah diminta untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) guna meredam dampak krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat terhadap sektor riil terutama industri UKM Indonesia.

"Penurunan harga BBM merupakan salah satu langkah yang harus diambil pemerintah saat ini," kata ekonom, Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D, di Jakarta, Rabu (22/10).

Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM itu mengatakan, pengurangan harga BBM menjadi langkah konkret dan berpengaruh positif untuk menggerakkan sektor riil sekaligus meredam dampak krisis keuangan AS.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperketat impor barang jadi dan mencegah barang impor ilegal. "Kami mengusulkan agar pemerintah memacu pembangunan infrastruktur di Indonesia," katanya.

Langkah lain yang perlu diambil pemerintah adalah memberikan insentif pajak untuk perusahaan yang berorientasi ekspor seperti tekstil, industri hilir, dan industri padat karya.
Krisis pasar finansial AS mulai terasa dampaknya September 2008. "Hal itu dapat dilihat dari kurs rupiah terhadap dolar AS yang mengalami tren penurunan dan IHSG yang mengalami tren depresiasi tajam sejak September 2008," katanya.

Mudrajad berpendapat krisis tersebut memberikan kecenderungan perangkap terbesar berupa pengangguran permanen, kemiskinan permanen, semakin merajalelanya praktek KKN, ekonomi ilegal yang juga merajalela, dan "country risk trap crisis".

Oleh karena itu, strategi pengembangan UMKM sebagai penggerak utama sektor riil di tengah krisis global harus fokus pada berbagai hal di antaranya peningkatan ekspor, kepastian usaha dan "commercial intelegence".

Selain itu juga harus terarah pada kelancaran distribusi, perlindungan konsumen, pembangunan karakter, memfasilitasi UMKM, dan meningkatkan pembiayaan UMKM. "Perlu ada struktur industri yang kokoh," katanya.

Sedangkan untuk membangun struktur industri yang kokoh harus ada keterkaitan yang erat antara industri hulu dan hilir, demikian Mudrajad Kuncoro.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/22/11362747/redam.krisis.pemerintah.harus.turunkan.harga.bbm

Sabtu, Oktober 18, 2008

BIOGAS: ENERGI ALTERNATIF PENGGANTI BBM



ImageWarga Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kecamatan/Kota Batu, tidak lagi merasakan kelangkaan dan mahalnya harga minyak. Itu karena warga sudah menggunakan biogas sebagai energi alternatif, untuk bahan bakar. Dampaknya, warga pun bisa berhemat, dan tak perlu antre.

Teknologi biogas ini, diawali tahun 2004 lalu. Mulanya, warga mencari cara untuk membuang kotoran ternak sapi miliknya. Maklum, sebelum diolah menjadi biogas, kotoran ternak sapi itu dibuang sekenanya. Paling sering di sungai.

Aktifitas warga yang membuang kotoran sapi di sungai setiap hari, menuai banyak protes warga yang ada di bawah aliran sungai tersebut. Warga yang protes menuduh pemilik ternak telah mencemari lingkungan dan kejernihan air.

‘’Kami berpikir saat itu untuk mencari alternatif pembuangan kotoran sapi. Kebetulan setelah melakukan konsultasi ke sana dan kemari, akhirnya mendapat jalan keluar,’’ terang Sudarji, salah satu warga yang mempelopori adanya biogas ini.

Saifudin Zuhri, adalah salah satu warga yang berjasa membuat bahan bakar dengan biogas ini. Pasalnya Gus Udin, begitu dia kerap dipanggil, tidak malu-malu untuk mengajukan bantuan, pengolaan biogas tersebut ke PT Petrokimia Gresik. Saat itu PT Petrokimia Gresik, membantu membuatkan tabung pengolaan.

Dua tabung pun akhirnya dibuat oleh PT Petrokimia Gresik, yang masing-masing berfungsi sebagai tabung pengisian dan tabung pembuangan.

‘’Tabung yang diameternya kecil itu untuk pengolaan, yaitu diisi kotoran sapi. Sedangkan tabung yang berdiameter 3,4 meter ini untuk pembuangan. Di dalam tabung ini juga ada selang, yang berhubungan, sehingga proses pengolaan ini berjalan sempurna,’’ kata Sudarji.

Sedikitnya 200 kg kotoran sapi yang digunakan warga untuk diisikan ke tabung. Dan dari 200 kg itu bisa digunakan memasak hingga tujuh keluarga, masing-masing mendapat jatah memasak dua jam.
Warga juga tidak panik, saat gas tiba-tiba mati, sekalipun saat itu memasak. Mereka hanya perlu menunggu, paling lama satu jam untuk gas bisa terisi penuh kembali.

‘’Waktu pertama memang dua jam memasak, bisa dilakukan bersama-sama. Tapi jika gasnya habis, warga harus sabar menunggu, karena secara alami proses pengolaan berjalan,’’ terang Sri Utami, salah satu warga yang memasak dengan biogas.

Untuk melihat sisa gas apakah habis, ataupun masih banyak, warga memakai alat ukur dan selang berisi air. Jika gas penuh, maka air akan meluap hingga angka 100 centi. Namun jika gasnya sedikit airnya tidak akan naik.

http://energialternatif.ekon.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=121&Itemid=79

BIOFUEL DARI AREN

Aren Sangat Potensial Menghasilkan Biofuel dibanding yang Lain

Tanaman aren (Arenga Pinnata) sangat potensial menghasilkan biofuel (bahan bakar nabati) dan perlu dikembangkan sebagai perkebunan besar seperti halnya kelapa sawit atau jarak pagar.

"Kelebihan tanaman aren ini bisa dipanen setiap hari sepanjang tahun, menghasilkan lebih banyak dan cepat bahan bakar dibanding tanaman lain," kata Kepala Bagian Jasa Iptek Puslit Kimia LIPI Dr Hery Haeruddin di Jakarta, Senin.

Pohon aren, ujarnya, tidak seperti tanaman lain penghasil bioethanol (bahan bakar pengganti bensin) yaitu singkong yang memiliki masa panen enam bulan atau tebu tiga bulan untuk sekali panen saja serta keterbatasan lainnya. Aren, lanjut dia, bisa dipanen terus-menerus di mana setiap satu pohon aren bisa menghasilkan nira 1-20 liter per hari yang 10 persennya bisa diproses menjadi ethanol.

"Setiap hektar bisa ditanami 75-100 pohon sehingga setiap hektar bisa menghasilkan 1.000 liter nira per hari atau sekitar 100 liter ethanol per hari. Bandingkan dengan sawit yang satu hektarnya hanya menghasilkan maksimal enam ton biodiesel per tahun," katanya.

Pada masa lalu penanaman aren, tanaman asli Indonesia ini, sangat sulit dan hanya bisa dilakukan oleh musang, tetapi kini Puslit Biologi LIPI telah mampu membudidayakannya dan menyediakan bibitnya, ujarnya.

Dari mulai bibit hingga menjadi tanaman aren yang menghasilkan, ia akui, memerlukan 6-8 tahun, namun demikian angka itu tidak terlalu lama jika dibandingkan dengan tanaman lain seperti kelapa sawit yang memerlukan waktu 5-6 tahun untuk menghasilkan minyak sawit.

Menurut dia, getah nira yang menetes dari bunganya, lebih mudah dijadikan bioethanol dibanding dijadikan gula aren. Getahnya cukup difermentasi (diberi ragi/mikroba) lalu setelah menjadi alkohol dipisahkan dari airnya.

Tanaman aren selain bisa diproses menjadi subtitusi bensin juga baik dalam hal menyimpan air tanah serta mencegah bencana banjir dan longsor. Saat ini aren banyak ditanam antara lain di Rangkas Bitung, Cianjur Selatan, Ciamis, hingga di Sulawesi Utara.

sumber : www.republika.co.id

Bahan bakar minyak IJG

MINYAK BAKAR

Minyak Bakar is not from distillate type but from residue type and have dark black chromatic. Minyak Bakar is more thicker than diesel oil and have higher level point pour than diesel oil. The usage of minyak bakar in general is for fuel at direct combustion in big industrial kitchens, the Steam Power Station and others which very pay attention for economic facets of its fuel. Minyak Bakar is also referred as Marine Fuel Oil.

Spesifikasi

NO
PROPERTIES SATUAN/UNIT LIMITS TEST METHODS

MIN MAX ASTM IP
1
Specific Gravity 60 / 60 °F
-
0.990
D-1298

2
Viscosity Redwood 1/100 °F Secs 400 1250 D-445 *) IP 70
3

Pour Point °F - 80 D-97
4

Calorific Value Gross
BTU/lb
18.000
-
D-240

5

Sulphur Content
% wt
-
3.5
D-1551/1552

6

Water Content
% vol
-
0.75
D-95

7

Sediment
% wt
-
0.15
D-473

8

Netralization Value :







- Strong Acid Number
mgKOH/gr
-
Nil


9

Flast Point P.M.c.c
°F
150
-
D-93

10

Conradson Carbon Residu
% wt
-
14 D-189


MINYAK DIESEL
Minyak Diesel adalah hasil penyulingan minyak yang berwarna hitam yang berbentuk cair pada temperature rendah. Biasanya memiliki kandungan sulfur yang rendah dan dapat diterima oleh Medium Speed Diesel Engine di sektor industri. Oleh karena itulah, diesel oil disebut juga Industrial Diesel Oil (IDO) atau Marine Diesel Fuel (MDF).

Spesifikasi


NO PROPERTIES SATUAN/UNIT LIMITS TEST METHODS
MIN MAX ASTM IP
1 Specific Gravity 60 / 60 °F
0.840
0.920 D-1298
2
Viscosity Redwood 1/100 °F
Secs
35
45
D-445 *)
IP 70
3
Pour Point
°F
- 65 D-97

4
Sulphur Content % wt
-
1.5
D-1551/
1552

5
Conradson Carbon Residu
% wt
-
10
D-198

6
Water Content
% vol
-
0.25
D-95

7 Sediment
% wt
-
0.02
D-473

8
Ash
% wt
-
0.02
D-482


Netralization Value :

- Strong Acid Number mgKOH/gr - Nil

9
Flast Point P.M.c.c °F 150 - D-93
10
Colour ASTM
6
- D-1500


MINYAK SOLAR
Minyak solar adalah bahan bakar jenis distilat berwarna kuning kecoklatan yang jernih.

Penggunaan minyak solar pada umumnya adalah untuk bahan bakar pada semua jenis mesin diesel dengan putaran tinggi (diatas 1.000 RPM), yang juga dapat dipergunakan sebagai bahan bakar pada pembakaran langsung dalam dapur-dapur kecil, yang terutama diinginkan pembakaran yang bersih. Minyak solar ini biasa disebut juga Gas Oil, Automotive Diesel Oil, High Speed Diesel.

Specification


NO Karakteristik UNIT Batasan Metode Uji ASTM/lain

MIN MAX ASTM IP
1
Angka Setana

45
-
D-613

2
Indeks Stana

48
-
D4737

3 Berat Jenis pada 15 0 C Kg/m3 815 870 D-1298 / D-4737

4 Viskositas pada 40 0 C Mm2/sec 2.0 5.0 D-445
5
Kandungan Sulfur
% m/m
-
0.35
D-1552

6 Distilasi : T95 °C - 370 D-86
7 Titik Nyala °C 60 - D-93
8 Titik Tuang oC - 18 D-97
9 Karbon Residu merit - Kelas I D-4530
10 Kandungan Air Mg/kg - 500 D-1744
11 Biological Grouth - Nihil

12 Kandungan FAME % v/v - 10

13 Kandungan Metanol & Etanol % v/v Tak Terdeteksi D-4815
14
Korosi bilah tembaga Merit - Kelas I D-130
15 Kandungan Abu % m/m - 0.01 D-482
16 Kandungan Sedimen % m/m - 0.01 D-473
17 Bilangan Asam Kuat mgKOH/gr - 0 D-664
18 Bilangan Asam Total mgKOH/gr
- 0.6 D-664
19 Partikulat Mg/l - - D-2276
20 Penampilan Visual - Jernih dan terang

21 Warna No.ASTM - 3.0 D-1500


MINYAK TANAH

Minyak tanah atau kerosene merupakan bagian dari minyak mentah yang memiliki titik didih antara 150 °C dan 300 °C dan tidak berwarna. Digunakan selama bertahun-tahun sebagai alat bantu penerangan, memasak, water heating, dll yang umumnya merupakan pemakaian domestik (rumahan).

Spesifikasi

Properties
Limit
Test Methods


Min Max ASTM LAIN
Spescific Grafity at 60/60oC

0.835
D-1298
Color Livibond 18" cell, or


2.5
IP 17
Color Saybolt
9
D-156
Smoke point mm mm 16*)
D-1322

Char Value mm/kg

40
IP 10
Destilation:


D-86
- Recovery at 200oC % vol 18


- End point oC
310

Flash point Abel, or
oF 100



Alternative Flash point TAG oF 105



Sulphur Content % wt
0.2 D-2166
Copper Strip Corrosion
(3 hrs/50oC)


No.1 D-130
Odour

Marketable


Catatan: *) Jika Smoke Point ditentukan dengan ASTM D-1322, maka batasan minimum diturunkan dari 16 menjadi 15 Spesifikasi tersebut sesuai dengan SK Dirjen Migas no. 002/DM/M

PREMIUM
Premium adalah bahan bakar minyak jenis distilat berwarna kekuningan yang jernih. Warna kuning tersebut akibat adanya zat pewarna tambahan (dye). Penggunaan premium pada umumnya adalah untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin bensin, seperti : mobil, sepeda motor, motor tempel dan lain-lain. Bahan bakar ini sering juga disebut motor gasoline atau petrol.
Spesifikasi teknis :.

S




















Spesifikasi :

No Properties Limits Test Methods
Min Max ASTM Others
01 Knock Rating Research Octane Number RON 88 - D-2699
02 T.E.L. Content gr/lt - 0,3 D-3341
D-5059
03 DISTILLATION :
• 10% vol. evap. To °C - 74
• 50% vol. evap. To °C - 125 *)
• 90% vol. evap. To °C 88 180
04 R. V. P. at 37.8 0C psi - 9.0 *) D-232
05 Exsistent Gum mg/100 ml - 4 D-381
06 Induction period min 240 - D-525
07 Sulphur Content % wt - 0.0 D-1266
08 Copper Strip Corrosion 3 hrs/122 °F - No.1 D-130
09 Doctor Test or Negative IP 30
10 Color Yellow
11 Dye Content : gr/100 lt 0.113
12 Odour Marketable