Tampilkan postingan dengan label SPBU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPBU. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 17, 2008

Premium Berpotensi Turun Lagi

Hore...!!!!!????

JAKARTA, SELASA — Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium masih akan berfluktuasi, bahkan tidak menutup kemungkinan akan turun kembali. Syaratnya adalah penghitungan harga minyak mentah Indonesia (ICP) dan nilai tukar rupiah bisa dipertahankan dalam satu tahun, serta APBN aman.

Hal ini disampaikan Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani di DPR, Jakarta, Selasa (16/12). "Tidak tertutup kemungkinan adanya penurunan terhadap harga premium," kata Menkeu.

Sri Mulyani mengatakan, dalam menurunkan harga premium ada 3 hal yang dijaga pemerintah, yaitu pertama menjaga pertumbuhan sektor riil dan daya beli masyarakat. Kedua adalah aspek psikologis masyarakat tetap dapat terjaga. "Karena, kalau kemudian dia (premium) bergerak-gerak terlalu dramatis, itu akan menimbulkan persoalan juga, baik di masyarakat, maupun dunia usaha. Kami perlu menjaga keseimbangan," tutur Menkeu.

Ketiga adalah menjaga kesinambungan pelaksanaan APBN 2008 dan 2009. Menkeu menuturkan, baik dalam APBN 2008 maupun APBN 2009, disebutkan adanya subsidi karena menggunakan asumsi harga minyak 80 dollar AS per barrel untuk ICP dengan kurs Rp 9.300 per dollar AS.

"Sekarang dua-duanya bergerak. Oleh karena itu, di dalam pengelolaan harga BBM harus tetap dilihat di dalam konteks APBN secara keseluruhan. Pergerakan ini akan kami monitor setiap bulannya," ujar Menkeu.

Minggu, Desember 14, 2008

Harga Turun, Pemerintah Beri Kompensasi untuk Pemilik SPBU

JAKARTA, MINGGU — Menteri Negara BUMN Sofyan A Djalil mengatakan, Pemerintah akan memberikan kompensasi yang seimbang dan wajar kepada pengusaha stasiun pengisian bahan bakar terkait keputusan pemerintah menurunkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar mulai Senin (15/12) pukul 00:00 waktu setempat di seluruh Indonesia.

"Nanti akan diakumulasi berapa sisa beban yang dipikul oleh SPBU. Hal itu sudah dibicarakan dengan Pertamina," kata Sofyan A Djalil setelah sidang kabinet terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu petang.

Keputusan Pemerintah untuk memberikan kompensasi itu merupakan langkah untuk mencegah terjadinya kelangkaan BBM seperti yang terjadi pada 1 Desember lalu saat pemerintah memutuskan menurunkan harga premium.

"Pengalaman waktu tanggal 1 Desember lalu hanya 76 SPBU saja yang mendapat kompensasi. Waktu itu, kami bagi sistemnya, dan mereka minta semua kompensasi oleh Pertamina. Tapi setelah kami hitung, ternyata tidak perlu semuanya, hanya 50 persen," katanya.

Sofyan A Djalil mengingatkan agar para pengusaha tidak hanya meminta kompensasi, namun juga berbagi beban dengan Pertamina dan para pengusaha sudah menyatakan setuju. "Selama ini kalau naik kan mereka menikmati untung, tapi kalau turun kok tidak mau sharing. Jadi, besok akan kami hitung dengan Pertamina berapa persisnya sisa cadangan yang sudah dibeli hari ini yang belum terjual nanti malam," paparnya.

Pada 1 Desember lalu, menurut Sofyan, kompensasi yang diminta oleh SPBU sebesar Rp 27 miliar dengan asumsi sehari penjualannya 54 kilo liter. "Nanti akan ada formula dan hitungan yang wajar. Sampai jam 12 malam akan dihitung sampai harga hari ini, tidak ada kerugian sampai jam 12 malam. Tapi sisa stok sampai lebih dari jam 12 baru dihitung rugi. Itu yang akan kami kasih kompensasi," katanya.

Pada Minggu (14/12), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan keputusan menurunkan harga jual bahan bakar minyak jenis premiun dari Rp 5.500 menjadi Rp 5.000, dan solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 4.800, sementara harga minyak tanah tetap Rp 2.500.

Keputusan itu berlaku secara efektif pada Senin (15/12) pukul 00.00 waktu setempat di seluruh Indonesia. Pengumuman itu dilakukan setelah rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu petang, yang dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Meneg BUMN Sofyan A Djalil.

Jumat, Desember 12, 2008

Menteri ESDM Desak Pertamina Atasi Kelangkaan Elpiji


Jumat, 12 Desember 2008 | 19:25 WIB

JAKARTA, JUMAT - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mendesak Pertamina untuk menangkal kelangkaan gas elpiji di sejumlah daerah. Pertamina diminta segera memasok gas elpiji ke daerah yang mengalam kelangkaan sehingga membuat harga elpiji membumbung tinggi.

"Kita meminta pada pertamina untuk penuhi itu," kata Purnomo Yusgiantoro usai mengikuti rapat terbatas di kantor Presiden, Jakarta, Jumat (12/12).

Purnomo berkilah, kelangkaan gas elpiji terjadi karena meningkatnya kebutuhan akan gas elpiji. Hal ini tidak berbanding lurus dengan jumlah produksi gas elpiji karena terdapat masalah pada kilang-kilang tertentu. "Infrastruktur yang dibangun butuh waktu, sementara kebutuhan kencang, dan ada sedikit masalah dikilang-kilang kita. Tapi saya kira dalam waktu dekat akan selesai," ungkapnya.

Kelangkaan elpiji yang ditemui di Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, elpiji untuk ukuran tiga kilogram dijual mencapai Rp 25 ribu per tabung. Padahal sebelumnya, elpiji untuk ukuran tiga kilogram dijual pada harga Rp 13 ribu hingga Rp 14 ribu per tabun

Pertamina Diminta Berdialog dengan Pemilik SPBU

Jumat, 12 Desember 2008 | 19:57 WIB
Beberapa SPBU di Jakarta Tersendat Pasokan BBM

JAKARTA, JUMAT — Pertamina diminta untuk melakukan dialog dengan pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) terkait rencana perusahaan tersebut mengurangi margin keuntungan SPBU dari penjualan BBM kepada masyarakat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro setelah mengikuti sidang kabinet terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (12/12) petang, mengatakan, dialog itu diperlukan agar kedua belah pihak saling memahami posisi masing-masing. "Itu (pengurangan margin) harus dibicarakan oleh Pertamina dan SPBU sebagai mitra usaha. Pemilik SPBU juga harus menyadari bahwa ia mengambil kuota dari Pertamina untuk didistribusikan kepada masyarakat," katanya.

Purnomo menegaskan peran sebagai distributor bahan bakar bagi masyarakat harus dijalankan dengan baik karena di satu sisi bagi SPBU itu merupakan sarana untuk mencari keuntungan, tetapi di sisi lain hal tersebut merupakan pelayanan bagi masyarakat.

Sebelumnya, PT Pertamina mengancam akan mengurangi margin (keuntungan) bagi SPBU yang tidak melakukan penebusan dan tidak mempunyai stok yang cukup menjelang penurunan harga BBM.

Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Kamis (11/12), mengatakan, sanksi penghentian suplai selama dua minggu ternyata tidak berjalan efektif dan malah mengurangi layanan kepada masyarakat. "Selanjutnya, kami akan berikan sanksi pengurangan margin yang besarannya ditentukan Pertamina," katanya.

Saat ini, SPBU menerima margin antara Rp 180 dan Rp 200 per liter. Selain itu, SPBU juga masih mendapat tambahan margin Rp 80 per liter jika mengambil satu hari sebelum penurunan harga.

Faisal juga meminta pemerintah mengumumkan perubahan harga BBM secara mendadak untuk menghindari terulangnya kelangkaan premium bersubsidi setelah penurunan 1 Desember lalu. Akibat kelangkaan premium beberapa waktu lalu, Pertamina telah memberi sanksi penghentian pasokan BBM selama dua minggu ke 69 SPBU.

Penghentian pasokan ke SPBU terbanyak terjadi di wilayah pemasaran unit II, yang di antaranya meliputi Palembang dan Lampung, yakni sebanyak 21 SPBU. Selanjutnya, sebanyak 19 SPBU di wilayah Banten, Jabar, dan DKI Jakarta.

Faisal menambahkan, pada tanggal 30 November 2008, terjadi penurunan penebusan premium hingga 30 persen karena SPBU menilai insentif Rp 80 per liter kurang menarik. Namun, pada 1 Desember, konsumen melakukan pembelian premium secara serentak sehingga terjadi kelangkaan dalam beberapa hari

69 SPBU Kena Sanksi


Petugas SPBU di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, melayani pembeli yang mengisi kendaraannya dengan premium, Senin (17/3). Mengikuti harga minyak mentah dunia, pekan lalu, Pertamina menaikkan harga bahan bakar khusus, antara lain pertamax plus dari Rp 8.100 per liter menjadi Rp 8.300 per liter.

Kamis, 11 Desember 2008 |

JAKARTA, KAMIS — Sebanyak 69 SPBU terkena sanksi skors dari Pertamina Persero berupa penghentian layanan selama dua minggu. Sanksi dijatuhkan karena SPBU tidak memiliki persediaan pada 1 Desember 2008 saat harga premium turun Rp 500 per liter.

Namun, Direktur Pemasan dan Niaga Pertamina Ahmad Faisal mengatakan, pemberian sanksi dengan penghentian layanan ke SPBU selama dua minggu ini dinilai kurang efektif karena mengurangi layanan ke masyarakat. Karena itu, selanjutnya Pertamina akan memberikan sanksi berupa pengurangan margin yang besarannya ditentukan Pertamina.

Tanggal 30 November 2008 terjadi penurunan 30 persen penebusan dari rata-rata penebusan pada Minggu. Pasalnya, SPBU menganggap tambahan margin Rp 80 per liter kurang menarik. Namun, pada 1-3 Desember terjadi penambahan 30 persen penebusan karena terjadi rush pembelian dari konsumen BBM.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Arie Soemarno menegaskan, pemberian margin Rp 80 per liter sudah disetujui pemegang saham Pertamina.

"Sebelumnya ketika premium naik pada Mei sekitar Rp 1.500 per liter SPBU sudah mendapat margin Rp 1.300 per liter. Apalagi, pada 2005 sampai dua kali lipat," ujar Arie.

Karena itu, Arie meminta agar pemilik usaha SPBU memahami pemberian margin tersebut karena tahun ini seharusnya SPBU tidak rugi.

Jumat, November 14, 2008

Zero Losses : Masyarakat Diuntungkan





A. Faisal Pengantar Redaksi :
Pertamina terus berupaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Hal itu dibuktikan dengan memrombak semua sistem di Depot Plumpang menjadi serba otomatis. Dengan adanya perubahan sistem tersebut diharapkan kebocoran ataupun kekurangan meter tidak lagi terjadi dan mayarakatpun diuntungkan. Berikut petikan wawancara dengan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina A. Faisal kepada Media Pertamina, mengenai hal tersebut.

Program zero losses di depot telah dilakukan, potensi kebocoran berhasil ditekan. Bisa dijelaskan?

Mengenai kebocoran, kalau dulu kita ada toleransi kehilangan itu sebesar 0,5%. Sekarang kita sudah bisa tekan di bawah 0,1% yakni 0,05%. Bahkan kita ada beberapa hal yang sudah mencapai 0,01%. Jadi kita memang kita sekarang berusaha menekan sampai dengan serendah mungkin ini yang disebut zero losses.

Karena bayangkan saja yang setiap hari dari Depot Plumpang minyak keluar sebesar 25.000 KL per hari maksimal dari sini, kalau 0,5% dari 25.000 KL sudah 125.000 liter kalau loss. Sekarang ini 1.000 - 2.000 KL dan target Pertamina adalah 0%.


Dimana saja terjadi kebocoran tersebut?

Kebocoran disini yang masih ada, karena proses penguapan-penguapan teknis. Kedua, karena ketidakpastian dari meter saja. Tapi secara teknis dan sengaja orang yang membocorkan sudah hilang sekarang.

Jadi kebocoran-kebocoran terjadi karena masalah teknis dari peralatan yang ada. Oleh karena itu sekarang ini kami sempurnakan peralatan yang ada. Tapi kebocoran yang dilakukan secara sengaja biasa terjadi disini, itu sudah dihilangkan sama sekali.


Kalau sebelumnya bagaimana?

Ya, kalau sebelumnya kebocoran terjadi kalau isi di filling set dari ujung ke ujung, orang sudah antri untuk niris. Mulai dari masuk sampai keluar tangki orang sudah siap mengambil jatahnya.

Bisa juga ketika mau mengisi meterannya tidak jalan, dengan manual bisa diatur. Mau ditambah 100 liter atau 200 liter bisa saja. Sekarang ini sudah tidak ada kemungkinan, karena sudah otomatisasi dan semua peralatannya sudah otomatis dan sudah tepat semua yang diambil sesuai dengan meterannya.

Sekarang kalau dibilang adanya loss itu hanya karena ketidak akuratan antara teknis yang ada ataupun pos penguapan yang terjadi karena kebocoran-kebocoran yang terjadi karena pipa.


Kalau kebocoran sudah dapat diatasi, apakah ada kemungkinan bahan bakar dapat menjadi murah harganya?

Artinya, Pertamina lebih efisien. Nah, kita mempunyai program efisien yang luar biasa secara keseluruhan di Indonesia. Kemarin tahun 2007, kita sudah bisa saving lebih kurang Rp 2 triliun dari loss dari seluruh Indonesia. Jadi sekarang ini kita mengupayakan ini terus, jadi harganya akan menambah margin atau keuntungan Pertamina.


Bagaimana dengan target tahun 2008?

Untuk tahun 2008, kami ada target-target lagi, yaitu kita mencoba untuk saving dari sisi Perkapalan sebesar Rp 1 trliun lagi.

Tapi ini kita upayakan karena masih menghadapi berbagai macam kendala, apalagi kapal-kapal milik Pertamina sudah banyak yang tua. Sehingga menyebabkan kadang-kadang terjadi penumpahan-penumpahan dan hal itulah yang ingin kita hindari sekarang ini.

Dan kita juga ingin meremajakan armada milik kita juga.


Dengan terobosan seperti zero losses, apa yang sebenarnya didapat oleh masyarakat?

Keuntungan bagi masyarakat dengan efisiensi yang terjadi di Pertamina adalah pelayanan masyarakat menjadi lebih baik dan masyarkatpun akhirnya diuntungkan. kalau dulu misalnya truk dari Plumpang ke SPBU itu hilang 100-200 liter jadi yang diterima oleh SPBU juga segitu.

Padahal pihak SPBU telah membayar full.

Misalnya dia ambil 10.000 liter, masuk ke SPBU tinggal 9500 liter, otomatis dia rugi. Untuk menutupi kerugian itu bagaimana? Biasanya mereka akan main di meteran untuk konsumen atau masyarakat.

Tapi karena sekarang sudah dijamin SPBU apa yang dibayar segitu juga yang dia terima. Jadi pengusaha pompa bensin tidak ada alasan lagi untuk tidak memberikan pelayanan yang tepat kepada masyarakat. Dengan adanya sistem tersebut yang diuntungkan masyarakat, dengan mendapatkan haknya yaitu tepat ukuran sesuai dengan apa yang dibayarnya.


Apa mungkin kalau ini ditekan semua, harga akan menjadi murah?

Bisa anda lihat, biaya Pertamina itu hanya 9% totalnya. Dari total cost yang ada disini. Jadi kalau kita dapat apapun yah nol, semua loss ditekan Pertamina tidak dapat apapun. Bukan karena Pertamina tidak dibayar, tapi karena harganya hanya turun 9%.

Jadi kalau harga keekonomiannya Rp10.000, berarti Pertamina hanya dapat Rp 9.000. Itu menandakan kita tidak mendapatkan apa-apa. Biaya Pertamina tidak diganti, keuntungan Pertamina tidak ada, biaya kita hanya Rp 1.000 perak per liternya.

Jadi Pertamina dibayar nol pun, atau tidak dibayar, tidak dikasih biaya penggantian dan untungnya pun hanya turun Rp 1.000. Karena 90% daripada biaya BBM itu karena dari harga minyak. Lebih dari 90% karena biaya minyak, karena biaya Pertamina hanya 9%.

Jadi tolong dipahami oleh masyarakat. Seefisienpun Pertamina, dan tidak dibayar margin kita hanya turun 9%

Selasa, November 11, 2008

Pasarkan Biofuel: Pertamina dukung Pelestarian Lingkungan, Ketersediaan Energi dan Pemberdayaan Masyarakat



Sebagai bentuk dukungannya terhadap program pemerintah, PT Pertamina (Persero) mengadakan peluncuran Bio Solar untuk Industri dan perluasan pemasaran BBN di SPBU. Peluncuran ini dilaksanakan di Depot Plumpang, Jakarta dan diresmikan oleh Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro.
"Dengan adanya SK Peraturan Menteri ESDM No.32 tahun 2008, Pertamina mendapat kepastian standarisasi kualitas bahan bakar nabati dan kelancaran pasokan bahan biofuel. Pertamina dengan demikian dapat menfokuskan perannya dalam meningkatkan pelayanan kepada konsumen." Direktur Utama PT. Pertamina (Persero), Ari H. Soemarno dalam konferensi pers di Plumpang berkaitan dengan peluncuran Bio Solar untuk Industri dan perluasan pemasaran BBN di SPBU tersebut.

Dengan memasarkan produk BBN, Pertamina juga memberi kontribusi dalam pelestarian lingkungan dan ketersediaan energi serta memberi dampak pada pengembangan masyarakat terutama petani penghasil bahan BBN.

Sebagai perusahaan yang berpengalaman 51 tahun di bidang migas, hal teknis dalam pembuatan biofuel bukan merupakan hal yang menjadi penghambat dalam penjualannya (lihat bagan proses pencampuran bio dengan bahan bakar). Produk-produk Bahan Bakar Bio yang selama ini telah dipasarkan oleh Pertamina adalah biosolar, biopremium, dan biopertamax.

Biosolar adalah campuran solar dan FAME (Fatty Acid Methyl Ester). Bio Premium merupakan campuran Premium dan ethanol unhydrous terdenaturasi 99,5%). Bio Pertamax merupakan campuran Pertamax dan ethanol unhydrous terdenaturasi (kemurnian > 99,5%) ditambah dengan aditif.

Untuk kendaraan yang menggunakan bahan bakar bio, tidak diperlukan modifikasi mesin. Bahan Bakar Bio memiliki keunggulan berupa emisi gas buang lebih baik / ramah lingkungan, mempunyai sifat detergensi (membersihkan mesin) dan memperpanjang umur mesin.

Sampai saat ini, Pertamina telah memasarkan Biosolar di 411 SPBU di Jakarta, Denpasar dan Surabaya, Biopremium di 14 SBPU di Jakarta dan Malang, dan Biopertamax di 46 SPBU di Jakarta, Surabaya, Malang dan Denpasar. Rata-rata penjualan saat ini adalah 80.600 kL/bulan untuk solar, 9.500 kL/bulan untuk premium dan 1.651 kL/bulan untuk pertamax. Di sektor industri, pengiriman Bio Solar sudah dimulai sejak tanggal 1 November 2008 lalu dan akan terus dikembangkan di masa datang.

Guna merealisasikan komitmen memperluas pasar BBN ini, Pertamina telah menyusun rencana pemasaran BBN hingga 2010 nanti. Pertamina menargetkan, hingga akhir 2008, pemasaran Biofuel untuk produk Bio Solar, Bio Premium, dan Bio Pertamax telah tercapai di Jawa Bagian Barat dan Jawa bagian Timur serta Bali. Sedangkan pada 2009, produk Bio Solar, Bio Premium, dan Bio Pertamax, diharapkan sudah dipasarkan ke SPBU-SPBU di seluruh Pulau Jawa, seluruh Sumatera, sebagian Kalimantan, dan di Makasar, Sulawesi Selatan. Sebelum akhirnya, pada 2010 nanti, Pertamina menargetkan produk-produk BBN sudah dapat diperoleh di SPBU-SPBU di seluruh Indonesia.

Kamis, Oktober 30, 2008

MENGENAL SPBU PASTI PAS!

Jakarta, tercapainya target 1000 SPBU Pasti Pas coy
Direktur Utama Pertamina Ari H. Soemarno didampingi Direktur Pemasaran & Niaga Achmad Faisal, Direktur Umum & SDM Waluyo, serta Senior Vice President Pemasaran Hanung Budya memotong tumpeng sebagai tanda rasa syukur atas tercapainya target 1000 SPBU Pasti Pas pada tahun ini, (19/9). Pencapaian ini bahkan lebih cepat tiga bulan dari target waktu yang telah ditetapkan, Desember 2008.•NDJ

The image “http://pastipas.pertamina.com/images/pas_bnr2_1.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.
The image “http://pastipas.pertamina.com/images/pas_bnr2_2.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.
Sumber : http://pastipas.pertamina.com/mengenal.asp




SPBU Pertamina PASTI PAS! adalah SPBU yang telah tersertifikasi dapat memberikan pelayanan terbaik memenuhi standard kelas dunia. Konsumen dapat mengharapkan kualitas dan kuantitas BBM yang terjamin, pelayanan yang ramah, serta fasilitas nyaman.


The image “http://pastipas.pertamina.com/images/pasdetil_gb1.gif” cannot be displayed, because it contains errors.

Kualitas dan kuantitas BBM terjamin karena SPBU PASTI PAS! menggunakan alat-alat pengukur kualitas dan kuantitas lebih akurat juga menerapkan prosedur monitoring yang lebih ketat. Untuk menjamin ketepatan takaran, SPBU melakukan test ketepatan volume secara rutin dengan batas toleransi akurasi lebih ketat dari SPBU biasa. Dinas Metrologi akan melakukan kalibrasi ulang pompa yang telah melewati batas toleransi. Untuk menjamin kualitas BBM, SPBU melakukan pengujian kualitas 3 kali lebih banyak dari SPBU biasa, juga dengan batas toleransi lebih ketat.

Konsumen akan selalu disambut oleh senyum, salam, dan sapa operator. Untuk memastikan anda mendapatkan volume yang akurat operator akan menunjukkan pada anda mesin pompa menunjukkan angka nol sebelum mulai pengisian.


SPBU Pertamina PASTI PAS! hanya diberikan kepada SPBU yang telah mendapatkan dan dapat mempertahankan audit sertifikasi oleh auditor internasional independen.

The image “http://pastipas.pertamina.com/images/pasdetil_gb2.gif” cannot be displayed, because it contains errors.

Untuk mendapatkan sertifikasi PASTI PAS!, SPBU harus lolos audit kepatuhan standard pelayanan yang ditetapkan oleh Pertamina. Audit ini mencangkup standard pelayanan, jaminan kualitas dan kuantitas, kondisi peralatan dan fasilitas, keselarasan format fasilitas, dan penawaran produk dan pelayanan tambahan. Setelah mendapatkan sertifikat PASTI PAS!, SPBU akan tetap diaudit secara rutin. Jika tidak lolos, SPBU dapat kehilangan predikatnya sebagai SPBU PASTI PAS!

Seluruh proses sertifikasi dilakukan secara independen oleh Bureau Veritas, institusi auditor independen internasional yang memiliki pengalaman Internasional untuk melakukan audit pelayanan SPBU.



Konsumen dapat mengenali SPBU PASTI PAS! melalui beberapa cara

1. Lihat logo dan sertifikat PASTI PAS!: logo akan pada kantung kiri operator sedangkan sertifikat PASTI PAS! dapat dilihat dalam kantor SPBU

2. Rasakan pelayanan operator: operator akan mengucapkan selamat pagi/siang/malam, menunjukkan angka nol, dan mengucapkan terimakasih dengan ramah

3. Temukan melalui website ini: fungsi Lokasi SPBU menyediakan daftar SPBU PASTI PAS! lengkap dengan lokasi, foto, dan deskripsi singkat produk dan pelayanan yang tersedia


The image “http://pastipas.pertamina.com/images/pasdetil_gb3.gif” cannot be displayed, because it contains errors.